KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ID– Sebuah unggahan menyentuh hati dari seorang ibu yang diposting melalui akun Karawang Info (KARIN) oleh Humaira Azahra mendadak viral dan menuai perhatian luas dari warganet. Dalam postingan tersebut, sang ibu menyampaikan curhatannya kepada Bupati Karawang terkait kesulitan ekonomi yang dialaminya hingga tak mampu membeli buku LKS untuk dua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dalam unggahannya, ibu tersebut bahkan berharap bantuan MBG (Makan Bergizi Gratis) untuk sementara bisa ditukar dengan buku LKS demi kelangsungan belajar anak-anaknya.
“Kalau bisa MBG anak saya untuk semester ini tukar saja sama buku LKS… anak saya SD ada dua, belum kebeli buku LKS, sementara sekolah belajar pakai buku LKS terus… bapaknya kerja ngojek kehujanan terus, dapatnya hanya untuk makan dan bekal anak saja,” tulisnya dengan nada haru.
Ia juga mengaku siap menerima cibiran warganet jika dianggap salah karena mengunggah keluhannya ke media sosial.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar dari netizen yang turut menyuarakan keprihatinan, sekaligus menyoroti masih maraknya praktik penjualan LKS di sekolah, padahal pemerintah telah melarang adanya pungutan maupun jual beli LKS di sekolah negeri.
Salah satu netizen menulis dengan nada tegas:
“Padahal udah dilarang jualan LKS tapi masih banyak sekolah yang melanggarnya!!!”
Netizen lain juga menyoroti dugaan adanya kenaikan harga LKS:
“Harganya juga dinaikin terus,” tulis akun Sarip Hidayat.
Sementara itu, Humaira Azahra selaku pengunggah di KARIN juga ikut menanggapi dengan nada kecewa terhadap aparatur negara.
“Ya Allah… pada dilanggarnya peraturannya sama ASN… kita yang di PAUD mah yang honorer disalah-salahkan aja.”
Namun, ada pula netizen yang menyampaikan bahwa tidak semua sekolah melakukan penjualan LKS, dan ada sekolah yang masih mengedepankan musyawarah dengan orang tua murid.
“Di sekolah anakku biasanya musyawarah dulu sama pihak orang tua, mau beli mangga juga tidak apa-apa karena masih ada buku paket di sekolah, cuma tidak bisa dibawa pulang. Sekarang mah di sekolah negeri tidak ada transaksi apapun,” tulis salah satu netizen.
Curhatan tersebut juga membuka ruang bagi keluhan lain dari para orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi serupa. Seorang ibu mengungkapkan bahwa anaknya yang sudah SMA dan yatim pun tidak mendapatkan bantuan PIP.
“Banyak ibu-ibu yang ngeluh di grup… anakku SMA yatim nggak dapat bantuan apa-apa, hidup ngontrak, uang jajan cuma lima ribu, kadang bingung makan… tapi alhamdulillah masih diberi kesehatan,” tulisnya lirih.
Bahkan ada netizen yang menantang agar sekolah yang masih memungut biaya LKS disebutkan secara terbuka agar bisa ditindaklanjuti.
“Sekolahan mana NU kudu bayar LKS, sebutkeun weh biar viral, jangan takut saya datengin sekolahannya.”
Hingga berita ini diturunkan, unggahan tersebut masih ramai diperbincangkan dan menjadi sorotan publik. Warganet berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah serta dinas terkait untuk menindak tegas sekolah yang masih melanggar aturan, sekaligus memastikan tidak ada lagi anak yang terhambat pendidikannya karena faktor ekonomi.
Penulis : jun@

