Mon - Sat 8.00 - 17.00

DPN HKTI: Gizi Harus Jadi Prioritas Hulu Pembangunan, Lapangan Kerja Butuh Fondasi SDM Sehat

JAKARTA — Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Gizi Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI), Muhammad Sirod, menegaskan bahwa kebijakan pemenuhan gizi, khususnya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), merupakan intervensi hulu yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia dan efektivitas kebijakan ekonomi di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Muhammad Sirod dalam menanggapi perdebatan publik terkait pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy yang menyebut bahwa intervensi gizi lebih mendesak dibanding penciptaan lapangan kerja.

Menurut Sirod, pernyataan Kepala Bappenas perlu dipahami sebagai penegasan urutan kebijakan pembangunan, bukan sebagai dikotomi antara gizi dan lapangan kerja.

“Gizi bekerja pada fase pembentukan kapasitas manusia. Sementara lapangan kerja bekerja pada fase pemanfaatan kapasitas tersebut. Kalau fondasi manusianya rapuh, kebijakan ekonomi tidak akan optimal,” ujar Sirod, Selasa (13/1/2026).

Berita Lainnya  Pemkab Karawang dan TNI Hadir di Tengah Masyarakat Lewat Bazar Pangan Murah

Sirod menjelaskan bahwa masalah gizi, terutama pada anak dan ibu hamil, memiliki jendela waktu biologis yang sangat terbatas, yakni pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Jika intervensi terlambat, dampaknya sulit diperbaiki di kemudian hari.

Kekurangan gizi pada fase awal kehidupan, lanjutnya, berdampak langsung pada perkembangan otak, sistem imun, serta kapasitas belajar, yang kemudian berpengaruh terhadap produktivitas kerja di usia dewasa.

“Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi soal kehilangan modal manusia yang bersifat permanen. Karena itu, intervensi gizi tidak bisa menunggu sampai kebijakan ekonomi berjalan,” tegasnya.

Ia juga merujuk pada berbagai studi ekonomi pembangunan yang menunjukkan bahwa investasi pada anak usia dini memberikan tingkat pengembalian sosial dan ekonomi tertinggi dibandingkan intervensi di fase kehidupan berikutnya.

Dalam konteks ketenagakerjaan, Sirod menilai penciptaan lapangan kerja tanpa dibarengi peningkatan kualitas gizi dan kesehatan berisiko menghasilkan tenaga kerja berproduktivitas rendah.

Berita Lainnya  Harga Daging Berulang Naik Tiap Ramadan, HA IPB Soroti Ketergantungan Impor

“ILO sendiri menegaskan bahwa status kesehatan dan gizi sangat menentukan produktivitas tenaga kerja. Jadi, kualitas SDM itu prasyarat, bukan akibat dari penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Ia menambahkan, penyerapan tenaga kerja tanpa peningkatan kapasitas manusia akan menekan upah, memperbesar sektor informal, dan memperpanjang ketergantungan pada bantuan sosial.

Sebagai organisasi yang fokus pada sektor pertanian, DPN HKTI juga melihat bahwa Program MBG memiliki potensi ekonomi yang signifikan bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.

Menurut Sirod, pelaksanaan MBG menciptakan permintaan terstruktur terhadap bahan pangan, jasa pengolahan, distribusi, dan tenaga kerja di daerah.

“Jika rantai pasoknya dikelola dengan melibatkan petani lokal, koperasi, dan UMKM pangan, maka MBG bisa menjadi pengungkit ekonomi desa sekaligus menjaga stabilitas produksi pertanian,” jelasnya.

Berita Lainnya  BGN Temukan Praktik Penguasaan Rantai Pasok MBG, Koperasi Jadi-Jadian Dipersoalkan  

Namun demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama MBG tetap pada pembangunan modal manusia, sementara dampak ekonomi merupakan efek turunan yang harus dikelola dengan tata kelola yang baik.

Sirod menilai kebijakan gizi, pendidikan dasar, dan kesehatan preventif merupakan tiga pilar intervensi hulu yang menjadi fondasi keberhasilan pembangunan ekonomi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau tiga sektor ini kuat, maka kebijakan industri, investasi, dan penciptaan lapangan kerja akan jauh lebih efektif. Bonus demografi hanya akan menjadi bonus jika kualitas manusianya benar-benar siap,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa perdebatan publik seharusnya diarahkan pada bagaimana menyinergikan kebijakan gizi, pertanian, pendidikan, dan ekonomi, bukan mempertentangkannya.

“Pertanyaannya bukan gizi atau lapangan kerja, tapi kapan masing-masing kebijakan harus didahulukan agar dampaknya maksimal bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.

(Emed Tarmedi)

Bagikan Artikel

TAG POPULER

SEPUTAR INDUSTRI

NASIONAL

POLITIK

Warga Perumahan Citra Kebun Mas (CKM) sambut dengan antusias kedatangan Calon wakil bupati Gina Fadila Swara dalam rangka sosialisasi visi-misi Acep-Gina.

KARAWANG || BERITAINDUSTRI.ONLINE - Kordinator Dapil VI Pemenangan Acep-Gina, Dedy Indra Setiawan mengungkapkan, hari ini pihaknya bersama teh gina berkampanye di perumahan Citra...

Tim Kuasa Hukum Acep -Gina soroti Baliho Petahana yang Masih Terpasang di Kantor Pemerintahan Agar di Turun kan !!

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | Menanggapi masih banyaknya baliho bergambar calon Bupati Karawang yang masih terpasang di setiap kantor pemerintahan dan bilboard di sorot Ketua Tim...

Semakin Terdepan, Acep-Gina di Rekomendasi Partai Gerindra Maju Pilkada 2024 Karawang

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | Setelah mendapatkan restu dari Partai Demokrat, Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang, Acep Jamhuri dan Gina Fadila Swara kembali...

UTAK ATIK Pilkada Karawang bersama Teh Celli dan Pesan Mendalam Untuk Pemimpin Selanjutnya

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | bertajuk diskusi publik dengan tema UTAK ATIK Pilkada Karawang tahun 2024 yang akan di laksanakan serentak pada 27 November...

Top News

INDEKS

DAERAH

- Advertisement -spot_img

HUKUM & KRIMINAL

TRENDING

KETENAGAKERJAAN

Komunitas

Pemerintahan

BERITA LAINNYA