Mon - Sat 8.00 - 17.00

Tekankan Ketahanan Rumah Tangga, Kebijakan Sosial Pemerintah Dinilai Jawaban atas Narasi “Growth without Prosperity”

JAKARTA, BERITAINDUSTRI.ID — Narasi “growth without prosperity” atau pertumbuhan tanpa kesejahteraan yang belakangan menguat dalam diskursus publik dinilai terlalu menyederhanakan persoalan pemulihan ekonomi pascapandemi. Menurut Praktisi Bisnis sekaligus Fungsionaris Kadin Indonesia, Muhammad Sirod, masalah utama Indonesia bukan terletak pada kegagalan pertumbuhan ekonomi, melainkan pada ketidaksinkronan antara pemulihan makroekonomi dan ketahanan rumah tangga.

“Pertumbuhan PDB memang relatif stabil di kisaran lima persen, tetapi pemulihan rumah tangga berjalan melalui jalur yang berbeda, terutama pendapatan kerja, kualitas pekerjaan, dan tekanan inflasi. Ini bukan kegagalan pertumbuhan, tetapi masalah transmisi manfaat pertumbuhan ke tingkat rumah tangga,” ujar Sirod dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).

Ia menjelaskan, pemulihan ekonomi pascakrisis secara empiris memang hampir selalu menunjukkan pola di mana indikator makro pulih lebih cepat dibandingkan kondisi ekonomi mikro masyarakat. Tekanan inflasi pangan dan energi, serta dominasi pekerjaan informal berproduktivitas rendah, membuat pendapatan riil rumah tangga tertahan meskipun ekonomi nasional tumbuh.

Berita Lainnya  Bupati Aep Tegaskan Ketertiban Ramadan, THM Wajib Tutup hingga Lebaran Usai  

Sirod menilai penyusutan kelas menengah yang kerap dijadikan dasar narasi “pertumbuhan tanpa kesejahteraan” lebih tepat dibaca sebagai pelemahan ketahanan ekonomi, bukan hilangnya kemakmuran secara menyeluruh.

“Banyak rumah tangga masih berada di atas garis kemiskinan, tetapi kehilangan ruang aman untuk menyerap guncangan. Mereka bertahan dengan mengorbankan tabungan dan kualitas hidup. Ini menunjukkan meningkatnya kerentanan, bukan runtuhnya kesejahteraan total,” katanya.

Dalam struktur sosial Indonesia, kelas menengah justru menjadi penyangga utama pascakrisis. Kelompok miskin relatif terlindungi oleh bansos, kelompok atas memiliki aset, sementara kelas menengah menyerap tekanan ekonomi agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan.

Sirod menilai arah kebijakan sosial pemerintahan Prabowo–Gibran melalui Asta Cita justru tepat karena menyasar langsung persoalan ketahanan rumah tangga. Tiga program utama, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), pemeriksaan kesehatan gratis dan restrukturisasi sistem kesehatan, serta sekolah rakyat, dinilai bukan sekadar kebijakan populis, melainkan investasi struktural jangka panjang.

Berita Lainnya  Bupati Aep Hadiri Peringatan Nuzulul Qur’an, Penutup Rangkaian Tarawih Keliling Pemkab Karawang

“MBG bukan hanya soal makan gratis, tetapi stabilisasi konsumsi dasar dan investasi modal manusia. Anak dengan gizi baik memiliki produktivitas jauh lebih tinggi di masa depan,” jelasnya.

Sementara itu, pemeriksaan kesehatan gratis dipandang sebagai upaya menurunkan risiko ekonomi akibat penyakit, yang selama ini menjadi penyebab utama kerentanan dan kemiskinan baru di banyak rumah tangga.

“Biaya kesehatan yang katastropik bisa menghancurkan kondisi ekonomi keluarga. Deteksi dini dan layanan primer yang kuat jauh lebih efektif dibandingkan bantuan setelah jatuh miskin,” tambahnya.

Adapun sekolah rakyat, menurut Sirod, merupakan intervensi pada akar masalah struktural, yakni keterbatasan akses pendidikan bagi kelompok rentan yang selama ini terjebak dalam pekerjaan berproduktivitas rendah.

Berita Lainnya  Bupati Aep Hadiri Peringatan Nuzulul Qur’an, Penutup Rangkaian Tarawih Keliling Pemkab Karawang

Sirod menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap menjadi fondasi utama pembangunan. Namun, tantangan kebijakan saat ini adalah bagaimana mengonversi pertumbuhan tersebut menjadi ketahanan konsumsi, kesehatan, dan kapasitas manusia.

“Pertumbuhan menyediakan ruang fiskal, dan kebijakan sosial memastikan ruang itu benar-benar mengurangi risiko hidup masyarakat. Inilah yang sedang dicoba diperbaiki lewat Asta Cita,” katanya.

Ia mengingatkan agar diskursus publik tidak terjebak pada pembacaan data yang simplistis. Mengutip peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz, Sirod menyampaikan bahwa apa yang diukur akan menentukan kebijakan yang diambil.

“Kalau kita salah membaca masalah, kita juga akan salah merespons kebijakan. Fokus seharusnya bukan menyoal ada tidaknya pertumbuhan, tetapi bagaimana manfaat pertumbuhan itu ditransmisikan ke kehidupan nyata rumah tangga,” pungkasnya.

(Emed Tarmedi)

Bagikan Artikel

TAG POPULER

SEPUTAR INDUSTRI

NASIONAL

POLITIK

Warga Perumahan Citra Kebun Mas (CKM) sambut dengan antusias kedatangan Calon wakil bupati Gina Fadila Swara dalam rangka sosialisasi visi-misi Acep-Gina.

KARAWANG || BERITAINDUSTRI.ONLINE - Kordinator Dapil VI Pemenangan Acep-Gina, Dedy Indra Setiawan mengungkapkan, hari ini pihaknya bersama teh gina berkampanye di perumahan Citra...

Tim Kuasa Hukum Acep -Gina soroti Baliho Petahana yang Masih Terpasang di Kantor Pemerintahan Agar di Turun kan !!

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | Menanggapi masih banyaknya baliho bergambar calon Bupati Karawang yang masih terpasang di setiap kantor pemerintahan dan bilboard di sorot Ketua Tim...

Semakin Terdepan, Acep-Gina di Rekomendasi Partai Gerindra Maju Pilkada 2024 Karawang

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | Setelah mendapatkan restu dari Partai Demokrat, Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang, Acep Jamhuri dan Gina Fadila Swara kembali...

UTAK ATIK Pilkada Karawang bersama Teh Celli dan Pesan Mendalam Untuk Pemimpin Selanjutnya

KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ONLINE | bertajuk diskusi publik dengan tema UTAK ATIK Pilkada Karawang tahun 2024 yang akan di laksanakan serentak pada 27 November...

Top News

INDEKS

DAERAH

- Advertisement -spot_img

HUKUM & KRIMINAL

TRENDING

KETENAGAKERJAAN

Komunitas

Pemerintahan

BERITA LAINNYA