KARAWANG | BERITAINDUSTRI.ID– Sebuah unggahan di media sosial Facebook Karawang Info mendadak viral setelah seorang warga mengaku bantuan sosial (bansos) miliknya dipotong oleh oknum Ketua RT di wilayah Dusun Tamiang, Desa Pisangsambo, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang.
Unggahan tersebut menuai sorotan luas dan memicu gelombang komentar dari warganet yang mengaku mengalami hal serupa di berbagai daerah di Indonesia.
Menanggapi viralnya kabar tersebut, Ketua RT 011 RW 004 Dusun Tamiang, Kartim, memberikan klarifikasi melalui surat pernyataan resmi yang dibuat di kantor Kecamatan Tirtajaya pada Selasa (29/10/2025).
Dalam suratnya, Kartim membenarkan bahwa dirinya memang melakukan pengumpulan Kartu ATM KKS BNI dari warga untuk pencairan bansos BPNT, namun hal itu disebut dilakukan atas dasar sukarela dan tanpa ada potongan.
“Saya hanya membantu mencairkan bansos dan semua uang sudah saya serahkan kembali ke masing-masing KPM (Keluarga Penerima Manfaat). Tidak ada potongan, hanya biaya administrasi agen bank,” tulis Kartim dalam surat pernyataannya.
Kartim juga menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk tidak lagi melakukan pengumpulan kartu ATM dan menyerahkan sepenuhnya proses pencairan kepada masing-masing penerima.
“Kartu ATM KKS akan dikembalikan ke KPM dan ke depan tidak akan ada lagi pemupulan kartu,” ujarnya.
Namun, di tengah klarifikasi tersebut, kolom komentar unggahan Karawang Info justru dipenuhi pengakuan warga dari berbagai daerah yang mengaku mengalami hal serupa — potongan bansos oleh oknum aparat desa maupun RT setempat.
Beberapa komentar warganet yang menjadi sorotan:
💬 “Kya, nya di mana-mana banyak nih yang kaya gini, cuma pada gak berani viralin atau laporin. Udah menjalar seperti akar dari bawah sampai atasnya. Kalo berani lapor, siap-siap gak dapet lagi, dicoret dari daftar penerima bansos.”
💬 “Di kampungku, Bandung Barat, setiap pencairan selalu ada potongan Rp50 ribu. Cuma ya gitu, gak ada yang mau berani lapor.”
💬 “Di Bekasi Timur, tiap ada bansos selalu dipotong paksa Rp50 ribu, katanya buat ongkos tukang pos. Padahal masuk ke kantong pribadi pegawai kecamatan.”
💬 “Di kampung gw kemarin turun bantuan Rp1,5 juta, terus dipotong RT dan rekan-rekannya Rp100 ribu per orang. Bayangin berapa banyak tuh kalau puluhan warga dipotong.”
💬 “Ada nih lansia dapet bantuan, tapi pas mau ambil duit malah oknum yang gesek kartunya. Pas ditanya struknya mana, malah ngamuk.”
💬 “Di tempat saya juga gitu, perangkat desa datang ke rumah-rumah penerima minta Rp50 ribu per orang dengan alasan entah apa, bawa kertas data yang gak jelas.”
Fenomena ini menambah panjang daftar keluhan publik soal penyaluran bantuan sosial yang masih rawan disalahgunakan oleh oknum di tingkat bawah. Warganet pun mendesak agar pihak berwenang turun tangan dan melakukan evaluasi terhadap mekanisme penyaluran bansos agar lebih transparan dan tepat sasaran.
Penulis : Jun@

