JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong implementasi biodiesel B50 tidak hanya dilihat sebagai kebijakan energi, tetapi juga sebagai momentum memperkuat riset, inovasi, hilirisasi teknologi, dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, serta dunia usaha.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan bioenergi memiliki prospek besar bagi masa depan Indonesia. Namun, implementasinya tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis yang membutuhkan dukungan riset dan inovasi.
“Dengan biodiesel ini kita bukan hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga mendukung sektor pertanian, memperkuat ketahanan energi dan kondisi pada masa depan rendah karbon,” ujar Arif dalam ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, sejumlah karakteristik biodiesel perlu menjadi perhatian, mulai dari nilai kalor yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, sifat fisikokimia, karakteristik pelarut, stabilitas oksidasi, hingga kandungan air. Aspek penyimpanan, transportasi, dan penanganan biodiesel juga membutuhkan teknologi dan standar yang tepat.
Namun, Arif menegaskan berbagai tantangan tersebut bukan alasan untuk menghambat pengembangan biodiesel.
“Tantangan ini bukan hambatan. Tantangan ini adalah agenda bagi kita, khususnya bagi kami yang ada di BRIN untuk bisa melakukan riset dan kajian sehingga tantangan-tantangan ini bisa diatasi dengan baik,” katanya.
Arif menjelaskan BRIN terus melakukan berbagai riset untuk mendukung implementasi B50. Pengembangan tersebut antara lain mencakup karakterisasi properti B50 pada berbagai kondisi penyimpanan, sistem filtrasi, teknologi penyimpanan, serta pengujian kinerja dan emisi B50 pada mesin Euro 4.
BRIN juga mengembangkan teknologi water removal untuk membantu menurunkan kadar air pada biodiesel.
Teknologi tersebut menggunakan pendekatan vakum termal yang dapat menurunkan kadar air pada B100 dari sekitar 1.000 ppm menjadi di bawah 260 ppm. Pengembangan sistem modular juga diarahkan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel dan efisien.
Sementara untuk campuran biodiesel di atas B50, riset diarahkan pada pengembangan komponen mesin flexi fuel, optimasi kinerja dan emisi, serta integrasi dengan sistem injeksi dan exhaust after treatment.
Menurut Arif, pengembangan teknologi tersebut menunjukkan bahwa persoalan teknis dalam biodiesel dapat menjadi peluang bagi dunia riset dan industri untuk menghasilkan solusi baru.
Selain berbicara mengenai teknologi B50, Arif menekankan pentingnya menghasilkan teknologi yang sederhana tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, teknologi yang sudah berhasil diterapkan sering kali terlihat sederhana ketika telah sampai ke tangan masyarakat. Padahal, proses di belakangnya membutuhkan riset, laboratorium, formulasi, pengujian, serta pengalaman panjang.
“Kadang-kadang ketika teknologi itu sudah sampai ke masyarakat, seolah-olah simpel banget. Padahal teknologi itu tidak mudah. Tetapi ketika sudah jadi formulanya, yang mudah semua orang bisa pakai,” jelasnya.
Ia mencontohkan teknologi sederhana untuk pengolahan sampah rumah tangga. Dengan teknologi yang relatif murah dan mudah digunakan, persoalan sampah yang setiap hari menumpuk dapat dikurangi sejak dari sumbernya.
Bagi Arif, teknologi seperti itu memiliki nilai penting karena tidak selalu membutuhkan sistem yang sangat kompleks untuk menghasilkan dampak besar.
“Teknologi yang sederhana, teknologi yang berguna,” tegasnya.
Arif juga menyoroti pentingnya hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah. Teknologi yang sudah matang harus dapat diadopsi oleh industri dan masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan material untuk produk sepatu. BRIN mengembangkan material dengan memadukan karet dan berbagai bahan sehingga menghasilkan produk yang kuat, awet, murah, dan nyaman.
Pengembangan tersebut juga diarahkan pada pemanfaatan material berbasis limbah, termasuk limbah sawit dan limbah industri.
Menurut Arif, sebuah produk sederhana seperti sepatu dapat memiliki spektrum teknologi yang luas. Mulai dari sepatu untuk kebutuhan sehari-hari, sepatu berbahan limbah, hingga sepatu yang dilengkapi teknologi sensor dan dapat terhubung dengan sistem digital untuk membantu mendeteksi kondisi kesehatan pengguna.
“Jadi sepatu pun gradasinya banyak. Sepatu yang asal dipakai saja, sampai sepatu kesehatan,” ujarnya.
Hal itu menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang terlihat canggih. Teknologi sederhana pun dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial tinggi.
BRIN menilai keberhasilan hilirisasi riset sangat bergantung pada kolaborasi dengan dunia usaha.
Arif mengatakan pengusaha dan industri bukan hanya menjadi pengguna hasil riset, tetapi harus menjadi mitra sejak proses penelitian dan pengembangan teknologi.
“Kita tidak ingin riset berhenti pada laporan atau publikasi. Kita ingin riset menghasilkan solusi yang dapat digunakan, diproduksi, dan memberikan dampak ekonomi serta sosial,” katanya.
Karena itu, BRIN membutuhkan masukan dari masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha mengenai berbagai persoalan nyata yang membutuhkan solusi teknologi.
Masukan tersebut kemudian dapat menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan riset yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan.
“Riset yang kita lakukan harus semakin dekat dengan kebutuhan nyata. Kita membutuhkan riset yang memberikan solusi, bukan riset yang mengawang-awang,” tegas Arif.
Menurutnya, ekosistem inovasi harus dibangun secara bersama-sama. Masyarakat menyampaikan kebutuhan, peneliti mengembangkan solusi, industri melakukan hilirisasi, sementara pemerintah menciptakan kebijakan yang mampu memberikan ruang bagi inovasi dan investasi.
Arif menegaskan bioenergi bukan semata-mata persoalan energi. Pengembangan bioenergi juga dapat menjadi bagian dari strategi nasional untuk menciptakan nilai tambah sumber daya domestik, memperkuat sektor pertanian, membuka lapangan pekerjaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Karena itu, pengembangan B50 dan bioenergi perlu ditempatkan dalam kerangka kolaborasi yang lebih luas.
“Kita memiliki sumber daya yang besar, tetapi pemanfaatan teknologinya harus terus ditingkatkan. Yang perlu kita lakukan adalah membangun jembatan antara riset, teknologi, industri, dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyebut ruang kolaborasi riset BRIN tidak hanya terbatas pada energi dan bioenergi. Berbagai sektor strategis seperti biodiversitas, air, pangan, farmasi, material, dan lingkungan juga membutuhkan inovasi yang dapat memberikan dampak langsung.
Arif berharap pengembangan B50 dan bioenergi dapat menjadi salah satu contoh keberhasilan kolaborasi antara riset dan dunia usaha.
“Mari kita jadikan B50 dan green diesel sebagai ikon kolaborasi bisnis riset demi Indonesia yang lebih tangguh, berdaulat energi, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(Emed Tarmedi)





