KARAWANG, BERITAINDUSTRI.ID – Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan Kelembagaan Ekonomi Petani dari Generasi Z di KEP Jamur Lestari Kamojing, Desa Kamojing, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penyuluhan Pertanian yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertanian, memperkuat kelembagaan ekonomi petani, serta mendorong lahirnya generasi petani muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu menjawab tantangan sektor pertanian masa depan.
Bimtek dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang atau pejabat yang mewakili. Kegiatan tersebut diikuti oleh penyuluh pertanian, petani milenial dan Generasi Z, kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), pelaku usaha pertanian, serta pengurus kelembagaan ekonomi petani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Karawang.
Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Karawang dalam memperkuat kelembagaan ekonomi petani sekaligus menyiapkan regenerasi petani sebagai fondasi pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Di tengah semakin pesatnya perkembangan teknologi dan tantangan perubahan iklim, sektor pertanian dituntut mampu bertransformasi menjadi sektor yang modern, produktif, efisien, dan memiliki daya saing tinggi.
Pada sesi pertama, Prof. Dr. Ir. Ridwan Rachmat, M.Agr dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan materi mengenai Budidaya Jamur Tiram Menggunakan Teknologi Internet of Things (IoT). Ia menjelaskan bahwa penerapan teknologi digital dalam budidaya jamur mampu mengendalikan suhu, kelembapan, dan kondisi lingkungan secara otomatis sehingga produktivitas meningkat, kualitas hasil panen lebih terjaga, serta biaya produksi dapat ditekan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kunci agar sektor pertanian mampu menarik minat generasi muda.
Selanjutnya, H. Emed Tarmedi, A.Md.Kep., S.KM., MH.Kes., selaku Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Karawang, atas arahan Ketua Dewan Pembina DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Karawang, H. Aep Syaepuloh, S.E., menyampaikan materi bertajuk “Peran Sektor Pertanian Lokal dalam Menjamin Kemandirian Bahan Baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG).”
Dalam pemaparannya, Emed menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis nasional yang memiliki dampak luas, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan menurunkan angka stunting, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah, membuka pasar baru bagi petani, memperkuat ketahanan pangan, serta menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Program MBG tidak dapat dipisahkan dari kemampuan daerah dalam menyediakan bahan baku pangan secara mandiri. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi fondasi utama keberhasilan program tersebut.
Menurut Emed, Kabupaten Karawang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk menjadi salah satu sentra penyedia bahan baku Program MBG. Sebagai lumbung padi nasional, Karawang memiliki hamparan sawah yang luas dengan dukungan jaringan irigasi teknis dari Bendungan Jatiluhur, produksi padi yang tinggi, serta potensi besar di sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan bahan baku Program MBG meliputi beras, sayuran, telur, daging ayam, ikan, buah-buahan, susu, serta berbagai komoditas pertanian lainnya yang seluruhnya dapat diproduksi oleh petani lokal apabila didukung melalui kebijakan yang tepat dan kemitraan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pola rantai pasok yang ideal dimulai dari petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi, kemudian disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebelum didistribusikan kepada sekolah sebagai penerima manfaat dan juga 3 B. Model tersebut akan menciptakan kepastian pasar bagi petani, menjaga stabilitas harga hasil panen, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, serta meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat desa.
“Program Makan Bergizi Gratis harus menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian. Jangan sampai bahan bakunya justru didatangkan dari luar daerah, sementara petani lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi. Ketika beras, sayuran, telur, ayam, ikan, buah, dan komoditas lainnya dipenuhi oleh petani Karawang, maka yang tumbuh bukan hanya anak-anak yang sehat, tetapi juga petani yang sejahtera dan ekonomi desa yang semakin kuat,” tegas Emed.
Dalam kesempatan tersebut, Emed juga memaparkan potensi bonus demografi yang dimiliki Kabupaten Karawang. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,6 juta jiwa dan didominasi usia produktif, Karawang memiliki peluang besar melahirkan generasi petani baru yang mampu mengembangkan usaha pertanian berbasis teknologi.
Ia mengajak Generasi Z untuk mengubah cara pandang terhadap dunia pertanian. Menurutnya, pertanian masa kini telah berkembang menjadi sektor modern yang memanfaatkan drone pertanian, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), greenhouse, precision farming, mekanisasi pertanian, hingga pemasaran digital melalui marketplace.
“Petani masa depan bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Petani saat ini adalah seorang agripreneur yang menguasai teknologi, memahami bisnis, mampu mengolah data, memanfaatkan digital marketing, dan menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memiliki daya saing,” ujarnya.
Emed juga menyoroti tantangan sektor pertanian seperti alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda menjadi petani, perubahan iklim, hingga fluktuasi harga komoditas. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan langkah strategis berupa perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), modernisasi alat dan mesin pertanian, digitalisasi sektor pertanian, penguatan kelembagaan ekonomi petani, hilirisasi produk pertanian, serta peningkatan kapasitas petani muda.
Ia menekankan pentingnya keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai penghubung antara petani dengan pasar. Melalui koperasi, hasil panen petani dapat dihimpun, disortir, dikemas, hingga didistribusikan kepada SPPG secara lebih efektif dan efisien sehingga memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Di akhir paparannya, Emed menyampaikan bahwa Program MBG sejatinya merupakan program lintas sektor yang memiliki dampak luas bagi pembangunan nasional.
“MBG bukan hanya program gizi. MBG adalah program pertanian, program ekonomi, program pendidikan, sekaligus program ketahanan pangan. Keberhasilan MBG dimulai dari sawah, kebun, kolam, dan kandang. Ketika kebutuhan pangan dipenuhi oleh petani lokal Karawang, maka kita sedang membangun generasi yang sehat, petani yang sejahtera, serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Pada sesi berikutnya, Harris Suryana, S.E., M.M. dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Karawang menyampaikan materi mengenai Penumbuhan Kelembagaan Ekonomi Petani. Ia menekankan bahwa kelembagaan ekonomi yang profesional merupakan fondasi penting dalam meningkatkan posisi tawar petani, memperluas akses pembiayaan, memperkuat jaringan pemasaran, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui pengolahan dan hilirisasi.
Melalui penyelenggaraan Bimtek ini, DPKPP Kabupaten Karawang berharap lahir generasi petani muda yang inovatif, adaptif terhadap teknologi, memiliki jiwa kewirausahaan, dan mampu membangun kelembagaan ekonomi yang kuat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan semakin mempererat kolaborasi antara pemerintah, BRIN, organisasi petani, koperasi, akademisi, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan Karawang sebagai lumbung pangan modern sekaligus pusat penyedia bahan baku Program Makan Bergizi Gratis yang berkelanjutan.
(Redaksi)




