PURWAKARTA, BERITAINDUSTRI.ID — Tenaga Ahli Kepala Badan Gizi Nasional, Muhamad Sirod, menghadiri kegiatan Halal Bihalal di Pesantren Al-Muhajirin, SD Al-Muhajirin 2 Purwakarta, Selasa (31/3). Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Tim Koordinasi dan Akselerasi MBG PBNU, yaitu H. Harianto Ogie dan Esti Purnawinarni.
Sirod menyampaikan bahwa pemenuhan gizi berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak dan kemampuan mereka mengikuti proses belajar. Asupan yang cukup dan berkualitas meningkatkan konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kesiapan menerima materi pendidikan.
Ia menyampaikan keterkaitan personal dengan Purwakarta sebagai daerah kelahiran dan tempat menempuh pendidikan. Ia melihat program ini telah menjangkau lebih banyak anak dan memberi dampak langsung bagi peserta didik di wilayah tersebut.
Pelaksanaan program MBG diarahkan pada penguatan rantai pasok pangan yang efisien dan berbasis lokal. Sirod mendorong keterlibatan petani dan peternak setempat melalui skema produksi yang terhubung dengan kebutuhan SPPG. Langkah awal dapat dimulai dari komoditas sederhana yang tersedia di wilayah.
Ia mencontohkan komoditas pisang yang saat ini masih banyak dipasok dari perusahaan besar. Sumber tersebut tetap relevan untuk menjaga kontinuitas pasokan. Pada saat yang sama, terdapat ruang untuk meningkatkan kontribusi petani lokal dengan menanam varietas yang sesuai dengan kondisi Purwakarta dan mengikatnya melalui skema contract farming.
Keterlibatan empat yayasan SPPG di bawah Al-Muhajirin dan jejaring SPPG di Purwakarta memungkinkan pembentukan permintaan yang stabil. Skema ini memberi kepastian bagi petani, membuka peluang bagi penggarap, dan memperluas manfaat ekonomi di sepanjang rantai pasok.
Sirod menyampaikan apresiasi kepada Dr, Hj, Ifa Faizah Rohman, M.Pd bersama pimpinan Yayasan Al-Muhajirin atas komitmen sejak tahap awal pelaksanaan program. Implementasi dilakukan saat kerangka regulasi masih berkembang dan membutuhkan penyesuaian di lapangan. Pengalaman tersebut menjadi dasar perbaikan sistem saat ini.
Ia juga menanggapi berbagai kritik terhadap program MBG dan Badan Gizi Nasional. Masukan publik dipandang sebagai bagian dari mekanisme koreksi kebijakan. Hasil di lapangan menunjukkan peningkatan akses gizi bagi anak-anak, dukungan bagi ibu hamil, serta pengurangan beban penyediaan pangan di lembaga pendidikan.
Sirod menekankan perlunya konsolidasi antar pelaksana, peningkatan standar operasional, dan penguatan pengawasan. Program ini dirancang untuk jangka panjang dan memerlukan kerja bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat agar berjalan stabil dan berkelanjutan.
(Emed Tarmedi)

