KARAWANG, BERITAINDUSTRI.ID – Sebuah pemandangan yang mencerminkan kedewasaan demokrasi dan kuatnya budaya dialog terlihat di Markas Kodim 0604/Karawang pada Kamis sore (9/4/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kabupaten Karawang mendatangi markas teritorial tersebut dalam sebuah aksi damai yang sarat makna.
Berbeda dari stigma aksi mahasiswa yang kerap diidentikkan dengan ketegangan, kehadiran GMNI justru membawa pesan persaudaraan, sinergitas, dan penghormatan terhadap institusi negara. Hal ini ditunjukkan melalui simbol setangkai mawar merah yang diserahkan kepada jajaran TNI sebagai bentuk apresiasi sekaligus harapan.
Komandan Kodim (Dandim) 0604/Karawang, Letkol Inf Naryanto, S.Kom., M.Han bersama jajaran menerima langsung kedatangan para mahasiswa dengan pendekatan yang terbuka, humanis, dan komunikatif. Tanpa sekat formalitas yang kaku, suasana dialog berlangsung cair, menunjukkan hubungan yang konstruktif antara aparat teritorial dan elemen mahasiswa.
Dalam sambutannya, Dandim menegaskan bahwa Kodim sebagai bagian dari Tentara Nasional Indonesia memiliki komitmen kuat untuk selalu dekat dengan rakyat, termasuk mahasiswa sebagai bagian dari generasi intelektual dan agen perubahan.
“Kami menyambut baik kehadiran rekan-rekan mahasiswa. Kodim adalah rumah rakyat. Dialog seperti ini menjadi cerminan kemitraan yang sehat antara TNI dan elemen pemuda. Aspirasi yang disampaikan tentu akan kami terima dan teruskan sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Letkol Inf Naryanto.
Aksi tersebut ditandai dengan penyerahan mawar merah secara simbolis dari mahasiswa kepada Dandim dan jajaran. Mawar merah dimaknai sebagai simbol keberanian moral, kecintaan terhadap bangsa, serta pengingat pentingnya menjaga netralitas dan profesionalitas TNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketua DPC GMNI Kabupaten Karawang, Alfani, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan untuk melakukan tekanan, melainkan membangun komunikasi yang konstruktif dengan institusi negara melalui jalur yang tepat.
“Kami hadir dengan semangat dialog dan sinergi. Kami tidak meminta hal yang berlebihan. Kami hanya ingin agar aspirasi kami dapat diteruskan kepada pihak-pihak yang berwenang hingga ke tingkat pusat,” tegas Alfani.
Ia juga menambahkan bahwa GMNI memahami struktur komando dan koordinasi dalam tubuh TNI yang bersifat hierarkis dan berjenjang. Oleh karena itu, pihaknya memandang Kodim sebagai salah satu pintu strategis untuk menyampaikan aspirasi secara resmi dan terukur.
Sebagai bentuk keseriusan, GMNI menyerahkan surat pernyataan sikap yang berisi sejumlah poin aspirasi untuk diteruskan melalui jalur institusional. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya bergerak di ruang aksi, tetapi juga memanfaatkan mekanisme administratif dalam menyuarakan kepentingan publik.
Dalam dialog tersebut, mahasiswa turut menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Mereka mendorong adanya transparansi dalam proses hukum, khususnya terkait pelimpahan perkara dari peradilan umum ke peradilan militer.
GMNI juga secara tegas menyampaikan sikap penolakan terhadap mekanisme peradilan militer dalam penanganan kasus tersebut, dengan alasan pentingnya menjamin prinsip keadilan yang terbuka dan akuntabel di hadapan publik.
Menanggapi hal tersebut, Dandim menegaskan bahwa setiap aspirasi yang disampaikan akan dicatat dan diteruskan sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam sistem komando TNI, tanpa mengurangi substansi dari tuntutan yang disampaikan.
Pertemuan berlangsung dalam suasana tertib, aman, dan penuh rasa saling menghormati. Tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi, kegiatan ini juga memperkuat kepercayaan antara mahasiswa dan aparat teritorial sebagai bagian dari elemen bangsa yang memiliki peran berbeda namun saling melengkapi.
Di akhir kegiatan, kedua belah pihak sepakat untuk terus menjaga komunikasi yang baik serta bersama-sama menciptakan suasana kondusif di wilayah Karawang. Sinergi antara mahasiswa dan TNI dinilai sebagai kunci dalam menjaga stabilitas sosial, sekaligus memastikan aspirasi masyarakat dapat tersalurkan secara efektif.
Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan peran antara mahasiswa sebagai kontrol sosial dan TNI sebagai penjaga kedaulatan negara dapat berjalan beriringan dalam bingkai demokrasi yang sehat, dialogis, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.
(Emed Tarmedi)

