KARAWANG, BERITAINDUSTRI. ONLINE, Hari Tari Sedunia pertama kali didirikan pada 1982 oleh Komite Institut Teater Internasional (ITI). Tujuan utama dari peringatan ini, yaitu untuk mempromosikan seni tari ke seluruh penjuru dunia agar seluruh orang menyadari nilai-nilai seni tari.

Sebanyak 5.000 penari dari berbagai kalangan mengguncangkan Karawang bahkan Nasional, mereka akan menampilkan Tari Jaipong Keliningan Tutungkusan khas asli Karawang yang sedang di galakkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kab. Karawang sebagai upaya melestarikan seni dan budaya daerah.

Aksi tari tersebut memecahkan rekor pertunjukan tari terlama dengan menari selama 8 jam nonstop di Villagio Summarecon Karawang. Aksi kolosal ini menjadi puncak peringatan Hari Tari Dunia sekaligus penegasan Karawang sebagai kota yang menghidupkan denyut seni Indonesia, Sabtu (3/5/2025).

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan H. Jaeni, S.Pd., M.Pd menyampaikan acara ini merupakan agenda yang memang di persiapkan untuk upaya melestarikan seni tari, faktanya seni tari menjadi simbol ikonik Karawang yaitu tari Jaipong yang sudah di kenal luas secara nasional bahkan mancanegara, jelasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa acara ini dapat memberikan pesan bahwa Karawang merupakan salah satu pusat kebudayaan seni tari secara Nasional dan ini untuk membuka minat dan antusias masyarakat agar terus dan tetap melestarikan warisan budaya Karawang yaitu tari Jaipong, tuturnya.
Di tempat yang sama Ketua DPRD Kab. Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H yang akrab di sapa kang HES mengajak kepada masyarakat Karawang untuk terus melestarikan seni tari khususnya tari jaipong karena ini simbol ikon Karawang.
“Kegiatan ini harus terus dilestarikan sebagai implementasi dari UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” tutur Kang HES
“Jaipong berasal dari Karawang. Unsur G3 Goyang, Geol, Gitek ada di sana. Ini bukti kuatnya akar budaya kita,” jelasnya.

Kang HES juga mendorong pemerintah agar terus memberikan ruang ekspresi bagi para seniman. “Sanggar-sanggar tari tidak selalu butuh bayaran, yang mereka butuhkah adalah apresiasi dan panggung untuk menunjukkan karya,” pungkasnya.
ET

