BANDUNG | BERITAINDUSTRI.ID – Kekecewaan mendalam disampaikan Ibu Yuli, yang akrab disapa Mamah Kaila, orang tua salah satu atlet Tunarungu Jawa Barat, usai menghadiri pertemuan antara perwakilan NPCI, Dispora, dan orang tua atlet di gedung Dispora Jawa Barat.
Ia menilai pertemuan yang digelar hari ini memang berjalan lancar, namun hasilnya jauh dari memuaskan.

“Intinya, pertemuan hari ini memang dibilang lancar, tapi tidak memuaskan. Banyak keinginan dan permintaan kami yang ditolak begitu saja,” ujar Mamah Kaila dengan nada kecewa.Kamis (16/10/2025)
Menurutnya, para orang tua dan atlet Tunarungu Jawa Barat berharap agar mereka tetap bisa ikut bertanding di Peparda (Pekan Paralimpik Daerah). Namun harapan itu seakan pupus setelah muncul penolakan dengan alasan aturan dari ICSD (International Committee of Sports for the Deaf).
“Kemungkinannya sangat kecil kami bisa ikut Peparda. Mereka selalu bangga menyebut ICSD sebagai dasar, tapi yang diakui cuma satu organisasi, yaitu Patrin. Padahal Patrin tidak pernah berkontribusi atau melakukan pendekatan dengan atletnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mamah Kaila mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Ketua Patrin yang dinilai tidak mampu menciptakan kenyamanan dan kerja sama dengan para atlet Tunarungu.
“Tidak ada harapan kalau tetap bergabung dengan Patrin. Ketua Patrinnya pun tidak ada kerja sama dan tidak bikin nyaman atletnya,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, hadir beberapa perwakilan dari NPCI Jawa Barat, termasuk Sekum dan beberapa anggota lainnya, serta pihak Dispora yang diwakili oleh Pak Hendri Wiyoto. Turut hadir pula sejumlah orang tua dan perwakilan atlet.
Meskipun demikian, hasil pertemuan tetap dianggap belum menyentuh persoalan utama yang dihadapi para atlet Tunarungu.
“Pertemuan berjalan lancar, tapi hasilnya tidak memuaskan. Kami tetap akan berjuang bersama agar ada kejelasan untuk masa depan atlet-atlet Tunarungu,” kata Mamah Kaila.
Ia menegaskan, pemerintah baik pusat maupun daerah harus turun tangan secara adil menyelesaikan polemik antara dua lembaga yang kini membuat nasib atlet Tunarungu terkatung-katung.
“Kami mohon pemerintah adil dan berpihak kepada atlet. Kami yang paling dirugikan oleh konflik ini. Kami ingin terus berprestasi di tingkat nasional dan internasional, tapi kami butuh dukungan dan kepastian,” pungkasnya penuh harap.
Penulis : Jun@

