JAKARTA | BERITAINDUSTRI.ID — Gedung megah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kembali menjadi saksi bisu perjuangan para orang tua atlet tunarungu. Pada Senin, 17 November 2025, mereka mendatangi Kemenpora untuk menanyakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang digelar pada Senin, 27 Oktober 2025.
Kedatangan mereka merupakan bentuk kegelisahan sekaligus ikhtiar atas masa depan para atlet tunarungu yang hingga kini terkatung-katung akibat konflik berkepanjangan antara dua lembaga, yaitu Patrin dan Porturin. Konflik ini berdampak langsung pada keberlangsungan karier para atlet, termasuk terganggunya kesempatan mereka untuk berlaga di turnamen nasional maupun internasional.
Dalam pertemuan tersebut, Asisten Deputi Olah Raga Layanan Khusus Dadi Surjafi — yang baru menjabat di posisi tersebut — menyampaikan keprihatinannya atas polemik yang terjadi dan menimpa atlet disabilitas, khususnya atlet tunarungu.
“Selama mereka berkonflik, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ini sudah masuk ke staf presiden, Ibu Anggi. Dan ini memang harus dibereskan di organisasinya,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Momen haru mewarnai pertemuan ketika salah satu atlet tunarungu cabang olahraga renang asal Bandung, Naila Fuja Rislani, menyampaikan keinginannya melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh sang ibu, Mamah Fuja. Dengan nada terbata, Naila menyatakan tekadnya.
“Saya Naila, atlet cabor renang asal Bandung. Ingin tetap berkompetisi dan bernaung di NPCI,” ungkapnya.
Masih di tempat yang sama, para orang tua atlet mendesak Kemenpora agar seluruh keluhan mereka segera disampaikan kepada pimpinan untuk mendapatkan solusi konkret terkait masa depan atlet disabilitas, khususnya tunarungu.
“Kami sangat berharap Kemenpora sebagai institusi tertinggi di bidang olahraga dapat segera membantu menyelesaikan perselisihan dualisme lembaga ini. Karena bagaimana nasib anak-anak kami, khususnya atlet tunarungu?” tegas salah satu orang tua.
Para orang tua berharap pemerintah hadir secara nyata untuk memastikan hak-hak atlet disabilitas terlindungi serta memberikan kepastian atas masa depan mereka di dunia olahraga. Mereka menegaskan, anak-anak mereka tidak boleh menjadi korban dari perselisihan antarlembaga yang tak kunjung selesai.
Penulis : Jun@

