JAKARTA, BERITAINDUSTRI.ID – Perbincangan publik mengenai teknologi bio-oil dari jerami atau yang belakangan dikenal dengan istilah Bobibos kembali mencuat setelah klaim bahwa bahan bakar alternatif tersebut dapat menggantikan bensin konvensional. Menanggapi hal ini, Muhammad Sirod, Dewan Pakar ASPEBINDO sekaligus Wasekjen HKTI, memberikan analisis kritis terkait peluang dan batasan teknologi tersebut, Rabu (19/11/2025).
Sirod menegaskan bahwa pemanfaatan jerami sebagai bahan bakar terbarukan memang memiliki potensi besar mengingat ketersediaannya yang melimpah dan nilai ekonominya yang masih rendah. Namun ia mengingatkan bahwa euforia publik sebaiknya disertai evaluasi objektif terhadap kemampuan teknologi yang digunakan.
“Jerami memang bisa menghasilkan 40–60 persen bio-oil dari proses pirolisis cepat. Angka ini tampak menjanjikan. Tapi kualitas bio-oil mentah masih jauh dari standar bensin modern yang dipakai kendaraan hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, bio-oil dari jerami memiliki kadar air tinggi, kandungan oksigen besar, sifat kimia tidak stabil, serta nilai kalori yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Karena itu, produk awal ini memerlukan tahapan pemurnian lanjutan seperti hydrotreating atau cracking agar mencapai kualitas yang layak digunakan untuk kendaraan.
“Pemurnian ini membutuhkan energi, katalis, serta fasilitas industri yang tidak sederhana. Investasinya setara kilang skala menengah. Jika belum ada infrastruktur yang memadai, klaim bio-oil bisa menggantikan bensin itu tidak realistis,” jelasnya.
Sirod juga menyoroti persoalan hulu, yakni pengelolaan jerami sebagai bahan baku. Jerami memiliki kandungan air tinggi dan volume besar sehingga menimbulkan kebutuhan pengeringan dan pengurangan ukuran sebelum diproses. Logistik dari lahan ke fasilitas pirolisis pun dapat menjadi komponen biaya yang besar.
“Rantai pasok harus efisien. Jika biaya logistik dan pengeringan tinggi, maka biaya produksi bio-oil akan sulit bersaing di pasar,” ungkapnya.
Meski demikian, Sirod menilai teknologi bio-oil dari jerami tetap penting sebagai bagian dari diversifikasi energi. Produk samping seperti syngas dan biochar dinilai dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan nilai tambah bagi industri dan sektor pertanian.
Ia mengingatkan bahwa teknologi ini lebih realistis jika diarahkan terlebih dahulu untuk kebutuhan industri, co-firing pembangkit, atau aplikasi energi lain yang tidak membutuhkan standar tinggi seperti bahan bakar kendaraan.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah kejujuran teknis. Bio-oil dari jerami memang inovasi, tapi belum bisa disamakan dengan bensin premium. Kita harus melakukan uji laboratorium, pilot plant, lalu uji skala industri sebelum membuat klaim besar,” tegas Sirod.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya riset, transparansi, dan kehati-hatian dalam menetapkan kebijakan energi nasional.
“Indonesia butuh inovasi, bukan ilusi energi. Pengembangan bio-oil dari jerami penting, tapi harus berbasis data dan kapasitas teknologi nyata agar tidak menyesatkan publik maupun pembuat kebijakan.”
(Emed Tarmedi)

