DEPOK — Perjalanan pendidikan Muhammad Sirod, S.TP., M.Han., menjadi gambaran bahwa proses belajar tidak selalu harus berjalan secara linear. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana Teknologi Industri Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2002, ia melanjutkan perjalanan profesional di dunia industri, bisnis dan organisasi hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan magister bidang Damai dan Resolusi Konflik di Universitas Pertahanan pada usia 47 tahun, Minggu (6/9/2026).
Menurut Sirod, latar belakang agroindustri dan resolusi konflik memang terlihat berbeda. Agroindustri membentuk cara berpikirnya dalam memahami sistem, proses produksi, teknologi, efisiensi dan pengelolaan sumber daya. Sementara studi resolusi konflik membawanya lebih jauh untuk memahami manusia, relasi sosial, kepentingan, kekuasaan, psikologi, sosiologi, hukum dan negara.
Selepas lulus dari IPB, Sirod menjalani sekitar 13 tahun sebagai profesional dan kemudian sekitar satu dekade sebagai entrepreneur sekaligus CEO. Ia pernah bekerja di perusahaan besar seperti Unilever dan AVK Valves dari Denmark, serta menghadapi dinamika perusahaan yang lebih kecil. Berbagai pengalaman tersebut memberinya pembelajaran praktis yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.
Dalam dunia profesional, ia mempelajari pemilihan teknologi, spesifikasi produk, penjadwalan proyek, analisis biaya, penjualan, pemahaman terhadap pelanggan, kepemimpinan dan kemampuan menggerakkan orang. Dari sana ia menyadari bahwa teknologi yang baik tidak otomatis menghasilkan bisnis yang baik, sementara strategi yang bagus juga tidak menjamin implementasi berjalan efektif karena di dalamnya terdapat manusia, organisasi, kepentingan, komunikasi dan pengambilan keputusan.
Ketika menjadi entrepreneur, ruang belajarnya semakin luas. Kesalahan membaca pasar, memilih orang, mengelola arus kas maupun mengambil keputusan investasi dapat langsung memberikan konsekuensi terhadap perusahaan. Bagi Sirod, entrepreneurship bukan sekadar keberanian mengambil risiko, tetapi kemampuan membaca peluang, mengorganisasi sumber daya, membangun kepercayaan, menjual gagasan dan mengambil keputusan dalam kondisi informasi yang tidak lengkap.
Pengalaman tersebut kemudian membuatnya semakin menyadari bahwa banyak persoalan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis. Proyek dengan desain yang baik dapat ditolak masyarakat, organisasi dengan aturan yang jelas tetap dapat mengalami konflik internal, dan kebijakan pemerintah yang rasional dapat menghadapi benturan kepentingan ketika diterapkan di lapangan.
Pertanyaan mengenai mengapa manusia mengambil keputusan, mengapa kelompok dengan kepentingan berbeda sulit mencapai kesepakatan dan mengapa konflik dapat berulang akhirnya mendorong Sirod mempelajari resolusi konflik. Baginya, bidang tersebut menjadi ruang untuk memahami sisi manusia yang selama ini belum menjadi fokus utama dalam perjalanan akademik dan profesionalnya.
Studi resolusi konflik kemudian melengkapi cara pandangnya terhadap sistem. Jika agroindustri mengajarkannya memahami sistem produksi, pengalaman profesional membentuk pemahaman tentang organisasi dan pasar, sementara dunia usaha mengajarkannya mengambil keputusan dan menghadapi risiko, maka resolusi konflik membantunya memahami manusia yang berada di dalam seluruh sistem tersebut.
Sirod juga menilai ilmu resolusi konflik semakin relevan di tengah perkembangan teknologi, artificial intelligence (AI) dan media sosial. AI mampu membantu manusia mencari informasi, menganalisis data, menyusun dokumen dan menghasilkan konten, tetapi keputusan mengenai kepentingan yang harus diprioritaskan, membangun kepercayaan, mengelola perbedaan serta menyelesaikan konflik tetap membutuhkan kemampuan manusia.
Perubahan media sosial juga membuat kemampuan komunikasi semakin penting. Setiap orang kini dapat membangun audiens dan menyampaikan gagasan tanpa harus memiliki perusahaan media. Namun, pengaruh tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat konten, melainkan juga kemampuan memahami audiens, menyusun pesan, membangun kredibilitas dan mempertanggungjawabkan informasi. Hal tersebut berkaitan erat dengan kepemimpinan, kewirausahaan, organisasi dan resolusi konflik.
Dari perjalanan tersebut, Sirod tidak lagi melihat identitas profesional sebagai sesuatu yang harus ditempatkan dalam satu kotak. Latar belakang agroindustri, pengalaman industri, kewirausahaan, organisasi, komunikasi, kepemimpinan hingga resolusi konflik justru menjadi rangkaian pengalaman yang saling melengkapi. Ia menyebut proses tersebut sebagai connecting the dots, ketika berbagai pengalaman yang awalnya terlihat tidak berhubungan akhirnya membentuk kemampuan yang utuh.
Sirod menegaskan bahwa menjadi multidisiplin bukan berarti mengetahui segala sesuatu secara dangkal. Seseorang tetap membutuhkan kompetensi utama yang kuat, kemudian membangun kemampuan untuk menghubungkannya dengan bidang lain. Menurutnya, semakin kompleks persoalan yang dihadapi, semakin sulit menyelesaikannya hanya dengan satu disiplin ilmu.
Kepada generasi muda, Sirod berpesan agar tidak terlalu cepat menganggap pilihan pertama akan menentukan seluruh perjalanan hidup. Kompetensi harus dibangun, pengalaman perlu dicari, kemampuan bekerja dengan orang lain harus dilatih, dan ruang untuk berubah harus tetap terbuka. “Bukan karena saya merasa sudah mengetahui semuanya, tetapi karena pengalaman justru membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak hal yang perlu dipahami,” ujarnya.
Perjalanan pendidikan dan kehidupan Sirod pada akhirnya menunjukkan bahwa belajar tidak mengenal batas usia dan tidak selalu mengikuti jalur yang lurus. Dari agroindustri ia belajar memahami sistem, dari dunia profesional belajar mengenai organisasi dan pasar, dari bisnis belajar mengambil keputusan serta mengelola risiko, dari organisasi belajar menghadapi beragam kepentingan, dan melalui resolusi konflik ia belajar memahami manusia. Seluruh pengalaman tersebut menjadi bekal untuk terus belajar, mengambil keputusan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
(Emed Tarmedi)





