JAKARTA, BERITAINDUSTRI.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi domestik Indonesia. Hal tersebut terlihat dari data pertumbuhan ekonomi nasional Triwulan I-2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, di mana ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Tenaga Ahli Kepala Badan Gizi Nasional, Muhammad Sirod, menilai capaian tersebut menunjukkan adanya perubahan arah struktur pertumbuhan ekonomi nasional yang kini semakin bertumpu pada penguatan permintaan domestik dibanding dorongan eksternal seperti ekspor dan komoditas global.
Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi fondasi utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi mencapai 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen, sementara konsumsi pemerintah melonjak hingga 21,81 persen, Rabu (6/5/2026).
“Data ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai bergerak dari dalam negeri. Belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat menjadi faktor utama penggerak ekonomi nasional di tengah perlambatan global,” ujar Muhammad Sirod dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, pada saat yang sama pertumbuhan ekspor hanya mencapai 0,90 persen dan kontribusi net ekspor tercatat negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut menandakan bahwa Indonesia mulai memperkuat model pertumbuhan berbasis domestic demand economy atau ekonomi berbasis permintaan domestik.
Dalam konteks itu, Program MBG disebut memiliki posisi yang sangat strategis. Bahkan, BPS secara eksplisit mencatat bahwa perluasan cakupan MBG turut mendorong pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh hingga 13,14 persen.
Tidak hanya itu, subsektor peternakan juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,84 persen akibat meningkatnya permintaan telur dan daging ayam untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya Idulfitri serta pelaksanaan Program MBG. Sementara sektor tanaman pangan ikut terdorong melalui peningkatan produksi padi pada masa panen raya awal tahun.
Muhammad Sirod menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak hanya berfungsi sebagai program bantuan sosial semata, tetapi telah berkembang menjadi instrumen pencipta permintaan nasional (demand creation) yang berdampak langsung pada rantai produksi pangan domestik.
“Efek MBG tidak berhenti pada belanja pemerintah. Program ini mulai menggerakkan sektor pertanian, peternakan, distribusi pangan, industri pengolahan makanan, logistik, hingga penyerapan tenaga kerja lokal,” katanya.
Ia menambahkan, di tengah melambatnya ekonomi global dan menurunnya permintaan ekspor dunia, penguatan pasar domestik menjadi langkah strategis yang dilakukan banyak negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, keberhasilan Program MBG ke depan dinilai sangat bergantung pada penguatan integrasi ekonomi domestik, terutama melalui keterlibatan petani lokal, peternak, koperasi, pelaku UMKM pangan, hingga industri pengolahan nasional.
Menurutnya, apabila rantai pasok MBG mampu terkoneksi kuat dengan produksi dalam negeri, maka program tersebut dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga perputaran ekonomi daerah.
“Isu penting berikutnya adalah memastikan local sourcing berjalan optimal, memperkuat rantai pasok pangan nasional, pembangunan cold chain, standarisasi kualitas pangan, hingga pengembangan kapasitas produksi domestik,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga konsumsi tetap tinggi, melainkan memastikan konsumsi tersebut mampu memperkuat kapasitas produksi nasional dalam jangka panjang.
“MBG memiliki posisi unik karena menghubungkan konsumsi publik secara langsung dengan produksi pangan domestik. Ini yang membuat dampaknya terhadap ekonomi nasional menjadi sangat besar,” tambahnya.
Muhammad Sirod menilai, data ekonomi Triwulan I-2026 memperlihatkan arah baru kebijakan ekonomi Indonesia, di mana negara mulai lebih aktif menjaga mesin pertumbuhan domestik di tengah ketidakpastian global.
“Arah kebijakan berikutnya akan menentukan apakah momentum ini berkembang menjadi fondasi penguatan ekonomi domestik jangka panjang atau hanya berhenti sebagai stimulus konsumsi jangka pendek,” pungkasnya.
(Emed Tarmedi)

