JAKARTA, BERITAINDUSTRI.ID – Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan performa yang kuat pada triwulan I-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), sekaligus menjadi salah satu capaian pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah tekanan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar dunia, Indonesia justru mampu menjaga momentum pertumbuhan secara stabil dan bahkan menempati posisi tertinggi di antara negara-negara anggota G20 untuk sementara waktu.
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun 2026 didorong oleh sejumlah faktor utama, mulai dari meningkatnya konsumsi masyarakat, mobilitas penduduk, membaiknya produksi domestik, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang turut menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak positif.
Menurut Amalia, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Aktivitas belanja masyarakat terus meningkat dan memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut terlihat dari Indeks Penjualan Eceran Riil yang tumbuh sebesar 4,74 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Selain itu, aktivitas transaksi digital juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Data BPS mencatat transaksi online yang berasal dari sektor e-retail dan marketplace tumbuh sebesar 6,2 persen secara kuartalan. Kondisi tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga dan aktivitas ekonomi digital yang terus berkembang.
“Konsumsi masyarakat terlihat terus tumbuh ditunjukkan oleh indeks penjualan eceran riil pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 4,74 persen secara tahunan,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Selain belanja masyarakat, penguatan konsumsi juga terlihat dari meningkatnya penggunaan transaksi elektronik, termasuk penggunaan kartu debit dan kartu kredit yang terus tumbuh secara tahunan.
Momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini juga ditopang oleh penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI dan Polri, pensiunan, hingga pekerja swasta. Penyaluran THR dinilai mampu meningkatkan daya beli masyarakat serta mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor usaha.
Tidak hanya konsumsi, peningkatan mobilitas masyarakat turut menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Aktivitas perjalanan masyarakat selama libur nasional dan hari besar keagamaan memberikan dampak positif terhadap sektor transportasi, perdagangan, hingga pariwisata.
BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara mengalami peningkatan, begitu pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara serta jumlah penumpang di berbagai moda transportasi.
Meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode libur panjang dinilai mampu menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, khususnya sektor UMKM, perhotelan, kuliner, dan jasa transportasi.
Di sisi produksi, kinerja sektor domestik juga menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Produksi padi nasional tercatat tumbuh sebesar 10,5 persen secara tahunan, yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di sektor pertanian.
Sementara itu, sektor industri pengolahan juga masih berada dalam tren positif. Hal tersebut terlihat dari Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) yang tetap berada di zona ekspansi, menandakan optimisme pelaku industri terhadap kondisi ekonomi nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi nasional masih terus bergerak dan memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data BPS, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun. Sedangkan PDB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.
Meski secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen quarter-to-quarter (qoq), kondisi tersebut dinilai masih normal karena dipengaruhi pola musiman awal tahun dan penyesuaian aktivitas ekonomi setelah periode akhir tahun sebelumnya.
Secara tahunan, performa ekonomi Indonesia justru menunjukkan tren yang sangat positif dan jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara besar dunia.
Dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen, Indonesia berhasil melampaui China yang tumbuh 5,0 persen, Korea Selatan 3,6 persen, Arab Saudi 2,8 persen, hingga Amerika Serikat sebesar 2,7 persen.
Sementara itu, beberapa negara maju lainnya mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, seperti Prancis sebesar 1,1 persen, Uni Eropa 0,8 persen, Italia 0,8 persen, Jerman 0,3 persen, dan Meksiko hanya 0,1 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global yang masih terjadi di banyak negara.
Dalam dua tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,08 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 yang berada di angka 3,30 persen.
Keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata G20 dinilai tidak terlepas dari sinergi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, pengendalian inflasi, penguatan konsumsi domestik, serta pembangunan infrastruktur dan hilirisasi industri.
Pengamat ekonomi menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen menjadi sinyal positif terhadap kondisi ekonomi nasional ke depan. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia masih mampu menjaga optimisme pasar, stabilitas investasi, serta pergerakan sektor riil.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi pemerintah, mulai dari fluktuasi harga komoditas global, tekanan nilai tukar, ketidakpastian geopolitik internasional, hingga penguatan lapangan kerja dan pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat daya beli masyarakat, meningkatkan produktivitas industri nasional, memperluas investasi, serta menjaga stabilitas ekonomi agar momentum pertumbuhan tetap terjaga hingga akhir tahun 2026.
Dengan capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026, Indonesia kembali menunjukkan diri sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi terbaik di tengah kondisi global yang masih penuh tantangan.
(Emed Tarmedi)

